Tentang Kritik Lewontin Terhadap Teori Evolusi
Ilmuwan genetika populasi terkemuka di abad 20 Richard Lewontin, melalui dua bukunya yang berjudul The Dialectical Biologist dan Biology as Ideology, mengkritik narasi adaptasi dalam teori evolusi yang seringkali digunakan sebagai justifikasi atas sistem sosial dominan yang ada saat ini dan sebagai gantinya menawarkan pandangan evolusi, sains, dan pengorganisasian sosial yang lebih emansipatif untuk perubahan tatanan sosial.
Dua Kejanggalan dalam Konsep Evolusi
Teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin telah merubah secara drastis pandangan manusia terhadap dirinya sendiri di dalam alam semesta. Sebelum ada teori evolusi yang menarasikan perubahan secara konstan dari keadaan makhluk hidup atau alam secara keseluruhan (evolusi kosmologi), manusia cenderung memandang dunia dan dirinya sendiri sebagai entitas yang statis; bahwa tatanan alam, meskipun penampakannya mengalami perubahan, apabila dilihat dalam gambaran besarnya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini merefleksikan kondisi tatanan sosial saat itu yang berbasis feodalisme dimana posisi individu dalam relasi sosial bersifat statis dan tidak dapat dirubah. Pandangan ini, yang diinternalisasi oleh orang-orang masa itu, tentu saja sangat menguntungkan penguasa-penguasa feodal karena memberikan legitimasi kuat atas kekuasaan mutlaknya.
Namun, feodalisme runtuh setelah revolusi kapitalisme. Oleh karena itu, untuk memberikan justifikasi terhadap perubahan yang terjadi, cerita tentang kestatisan relasi sosial digantikan oleh narasi perubahan, salah satunya adalah yang diberikan oleh konsep evolusi. Evolusi sebagai konsep, yang memang berarti perubahan, memiliki banyak variasi; mulai dari varian perubahan gradual seperti yang dideskripsikan Charles Lyell tentang perubahan geologis bumi, sampai varian filosofis seperti perubahan transformasional pada Geist yang diungkapkan Hegel. Namun, dari keluarga pikiran evolusi, menurut Lewontin, konsep evolusi dari Charles Darwin adalah yang paling radikal, dimana dalam pandangan ini tidak lagi spesies-spesies yang ada di bumi dianggap sebagai objek yang tidak berubah, tetapi justru mengalami perubahan secara konstan melalui proses struggle for existence dan seleksi alam.
Ada dua hal yang membuat evolusi ini dikatakan radikal oleh Lewontin. Pertama, konsep ini menganggap manusia bukan sebagai sesuatu yang memiliki keistimewaan dibandingkan organisme lain, melainkan sebagai organisme yang juga sama-sama menjadi objek dan produk dari proses seleksi alam. Dengan pandangan ini, maka keberadaan subjek-subjek manusia yang memiliki hak spesial, misalnya karena karena keturunan raja, sama sekali tidak berdasar dan hanya mitos untuk melegitimasi bentuk kekuasaan yang ada. Kedua, konsep evolusi Darwin berbeda dalam hal sifat mendasar dari konsep-konsep evolusi sebelumnya. Perubahan dalam evolusi Darwin bersifat variasional, yang berarti bahwa perubahan spesies terjadi melalui keberadaan seleksi dari variasi-variasi yang ada dalam populasi heterogen. Konsep ini sangat berbeda dari pandangan evolusi transformasional seperti yang dikemukakan Hegel atau Lamarck, dimana perubahan terjadi pada keseluruhannya secara bersama-sama. Dalam hal ini, dapat dikatakan konsep evolusi Darwin memiliki salah satu elemen dari pokok pikiran dialektika materialisme, dimana perubahan pada variasi populasi heterogen melalui seleksi alam yang terakumulasi secara perlahan-lahan dapat menghasilkan perubahan spesies—yang dapat dipikirkan sebagai salah satu bentuk dari perubahan kualitatif yang datang dari akumulasi perubahan kuantitatif. Pikiran ini sangat bertolak belakang dengan tradisi intelektual saat itu yang dipengaruhi Plato dimana variasi yang terdapat pada suatu “jenis” adalah bentuk manifestasi yang tidak sempurna dari “jenis” yang ideal. Karena dua hal ini, konsep Darwin benar-benar radikal dalam menjungkirbalikkan tradisi intelektual dan pandangan umum yang hidup pada masa feodal.
Tentu saja pandangan radikal Darwin ini mendapatkan kecaman dan perlawanan dari figur konservatif-beragama. Namun, lambat laun konsep ini diterima karena keberadaan bukti-bukti empiris dan menjadi kerangka utama dalam pemahaman sains biologi. Richard Lewontin, yang seorang genetikawan, tentu saja tidak membantah kebenaran dari evolusi—sudah banyak bukti empiris yang membuktikan perubahan organisme dalam sejarah panjang bumi dan evolusi sendiri sudah dianggap teori saintifik. Namun, di sini Lewontin, menggunakan kejelian kritisnya, menemukan bahwa terdapat beberapa hal ‘janggal’ di dalam cara konsep evolusi itu disebarluaskan. Kejanggalan dari evolusi itu, Lewontin melihat, terdapat pada asumsi atau bias terselubung yang bersumber dari kondisi relasi sosial dominan yang ada saat konsep tersebut dicetuskan dan berkembang. Oleh karena itu, Lewontin di sini berargumen bahwa perkembangan sains tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dalam mengobservasi alam, tetapi juga oleh keberadaan relasi sosial yang dominan menduduki tatanan masyarakat.
Kepekaan Lewontin dalam membaca perkembangan sains inilah yang membawanya kepada kritik terhadap konsep evolusi yang juga ternyata secara eksplisit ataupun diam-diam seringkali digunakan untuk menjustifikasi keberadaan tatanan sosial kapitalisme. Kritik dari Lewontin dapat kurang lebih dibagi menjadi dua bagian utama: kecacatan konsep adaptasi dalam teori evolusi dan permasalahan fundamental dari reduksionisme.
Kecacatan Konsep Adaptasi dalam Teori Evolusi
Diungkapkan oleh Charles Darwin bahwa akibat dari proses seleksi alam yang terjadi secara terus-menerus dalam angsur waktu yang sangat lama, organisme-organisme di bumi mempunyai sifat-sifat yang hampir teradaptasi sempurna dengan lingkungannya. Sayap memiliki bentuk yang kurang lebih sama dan digunakan untuk terbang; begitu juga dengan sirip untuk berenang atau tangan yang cenderung panjang dari orang-utan yang digunakan untuk hidup di pepohonan rimbun. Narasi ini memang sangat intuitif karena kita dapat melihat berbagai macam organ pada organisme-organisme di sekitar kita tampak memiliki kejelasan fungsi yang menonjol yang sangat cocok dengan kondisi lingkungan mereka biasa hidup. Barangkali ini adalah salah satu bukti yang paling mudah diakses tentang kebenaran teori evolusi. Namun, Lewontin menganggap bahwa konsep adaptasi yang dinarasikan terlalu jauh malah justru menunjukan kecacatan konseptual.
Pertama-tama, mari kita coba mengklarifikasi konsep adaptasi. Dalam pandangan ini, dikatakan bahwa organisme terpisah dari lingkungan sekitarnya. Masing-masing dari organisme dan lingkungan memiliki aturan dan cara kerjanya masing-masing: organisme diatur oleh gen-gen dan aparatus fisiologis yang dimilikinya, sedangkan lingkungan diatur oleh hukum fisika/kimia. Interaksi di antara keduanya hanya terjadi melalui proses seleksi alam dimana organisme-organisme yang tak mampu untuk bertahan hidup pada kondisi lingkungan tempat mereka hidup cenderung tidak dapat melanjutkan keturunan dan oleh karenanya gen-gen yang dibawanya tidak ikut diwariskan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa lingkungan yang bertindak sebagai agen seleksi menyediakan permasalahan untuk organisme yang hidup di tempatnya. Organisme, kemudian, melalui variasi karakter yang dapat diturunkan (inherited traits) dalam populasi menyelesaikan permasalahan tersebut, yang kemudian organisme dengan variasi yang cocok dengan lingkungannya meneruskan gen-gen pengkode karakter tersebut. Dengan cara ini, yang terjadi selama berjuta-juta tahun, organisme menjadi semakin teradaptasi dengan lingkungan sekitarnya seiring waktu, semakin menyempurnakan karakternya.
Permasalahan dari konsep adaptasi yang demikian, menurut Lewontin, terdapat pada pemisahan mutlak antara organisme dan lingkungannya. Pada pemisahan ini, organisme dianggap sebagai objek pasif yang harus menerima kondisi dan merespon dengan menyelesaikan masalah yang disediakan lingkungan sekitarnya untuk terus dapat hidup. Padahal organisme tidak hanya berperan sebagai objek pasif, melainkan juga sebagai subjek aktif yang terus-menerus melakukan sesuatu pada lingkungannya tempat dia hidup. Organisme secara konstan memilih lingkungan yang kondusif untuk ia hidup sehingga secara tidak langsung memilah kondisi lingkungan yang menyeleksinya. Organisme juga melakukan transformasi pada lingkungan (seperti pada berang-berang yang membangun bendungan) sehingga menciptakan sendiri lingkungan yang akan mempengaruhi proses seleksi alam. Dengan kata lain, organisme bukan hanya sebagai produk proses evolusi saja, tetapi juga merupakan subjek yang berperan dalam proses evolusi dirinya sendiri.
Permasalahan tersebut, jika disimpulkan menggunakan bahasa para sosialis, mengalienasi organisme karena hanya dianggap sebagai objek pasif hasil dari interaksi lingkungan yang menyeleksinya. Tentang alienasi organisme ini, Lewontin lebih lanjut berargumen bahwa muara dari permasalahan ini adalah asumsi reduksionisme yang menurutnya memiliki permasalahan fundamental tersendiri.
Permasalahan Fundamental reduksionisme
Reduksionisme adalah metode berpikir untuk melihat sesuatu dengan memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga dapat ditemukan mekanisme kerja keseluruhannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendekatan berpikir reduksionisme telah memajukan pengetahuan sains dan memungkinkan untuk penciptaan teknologi mutakhir. Namun, terdapat permasalahan fundamental pada pendekatan ini, yaitu persis pada penekanannnya pada pembagian suatu objek yang dianalisis menjadi bagian-bagian kecil. Permasalahan dari pembedahan objek menjadi bagian-bagiannya adalah perlakuan seperti ini membekukan keseluruhan proses yang sedang terjadi pada dan dalam objek tersebut. Selayaknya organisme yang bergerak dan hidup yang jika dibedah untuk dipelajari organ-organ di dalamnya, organisme secara keseluruhannya akan mati dan kehilangan pergerakan kehidupannya.
Padahal, apapun yang ada di alam semesta, tak peduli seberapa konstan kelihatannya, sebenarnya secara konstan dalam proses perubahan/pergerakan; bahwa yang nyata adalah yang berubah. Misalnya, benda yang diam tersusun atas atom-atom yang dikatakan sebagai unit terkecil. Meskipun dikatakan unit terkecil, kita tahu atom tersusun atas partikel-partikel yang lebih kecil, elektron, proton, dan neutron. Adalah pelajaran sains tingkat SMA untuk mengetahui bahwa elektron secara konstan mengalami pergerakan dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Partikel-partikel itu, dalam fisika modern, juga masih dapat dipecah lagi menghasilkan partikel yang lebih fundamental yang datang dan sirna (bentuk perubahan juga). Hanya asumsi yang memudahkan kita untuk menjelaskan dunia saja bahwa atom memiliki karakteristik yang kurang lebih statis dan sepenuhnya seragam ketika menjelaskan fenomena yang terjadi di level yang lebih tinggi lagi (misalnya tingkat makromolekul atau makhluk hidup).
Pandangan reduksionisme juga memiliki asumsi bahwa fenomena yang sedang diselidiki (the whole) adalah totalitas hasil dari aktivitas bagian-bagiannya (the sum of its parts). Padahal, kita tahu bahwa fenomena yang berada di level lebih tinggi dari bagian-bagiannya memiliki karakteristik baru yang tak dapat diturunkan dari bagian-bagiannya—sifat yang sering disebut sebagai emergent property. Misalnya saja molekul organik, yang dengan menambah jumlah atom karbon satu demi satu, akan merubah keseluruhan sifatnya yang awalnya memiliki karakter larut dalam air (seperti methanol dan ethanol, yang masing-masingnya berkarbon 1 dan 2 secara berurutan) menjadi molekul yang bersifat tidak dapat larut dalam air (seperti heksadekanol yang berkarbon 10).
Namun, terlepas dari kelemahan fundamental dari pandangan reduksionisme, cara berpikir ini benar-benar sudah merasuk dalam benak orang di dunia modern. Permasalahannya bukan pada bahwa cara berpikir ini selalu salah dan tidak berguna. Tidak, bukan seperti itu; bagaimanapun juga cara berpikir seperti itu tidak terhindarkan. Adalah hal yang umum dalam berpikir untuk memberi nama, menentukan hierarki kategori, dan mengklasifikasikan kategori-kategori yang lebih kecil untuk mencari rantai kausalitas yang bekerja. Yang menjadi masalah utama adalah menganggap bahwa hasil analisis reduksionisme adalah kenyataan itu sendiri, bukan sebagai aproksimasi atau model bagi pikiran untuk mendekati kenyataan. Kesalahannya bukan pada reduksionisme sebagai pendekatan epistemologis, tetapi pada klaim ontologis.
Hal ini sangat ketara apabila kita melihat cara mayoritas orang mencoba memahami fenomena sosial. Fenomena sosial yang dianalisis melalui pendekatan ini akhirnya akan menjelaskan bahwa fenomena/tatanan sosial yang dimiliki sekarang adalah hasil akhir dari akumulasi individu-individu yang hidup dalam lingkup/tatanan sosial tersebut. Salah satu konsep di lingkup biologi yang paling radikal yang merupakan hasil dari cara berpikir ini adalah determinisme biologis. Dalam pandangan ini, manusia benar-benar dianggap sebagai konsekuensi total dari keseluruhan interaksi antar gen-gen dan, oleh karenanya, karakteristik ‘natural’ dan ‘universal’ dari manusia tidak dapat dirubah. Bahkan, pandangan yang lebih ekstrim seperti yang diungkapkan Richard Dawkins menyatakan bahwa kita tidak lain hanyalah vessel/wadah atau robot kosong yang tak punya agency dan yang sebetulnya memiliki kendali adalah gen-gen yang terdapat dalam diri kita. Dari semua varian determinisme biologis, konsekuensi dari pandangan ini adalah anggapan bahwa tatanan sosial yang dimiliki saat ini merupakan konsekuensi dari interaksi gen-gen dan oleh karenanya hal natural dan tidak dapat dirubah.
Padahal, kita, atau setidaknya sebagian dari kita, tahu bahwa tatanan sosial benar-benar mempengaruhi kehidupan individual kita. The whole bukan produk dari kausalitas satu arah dari bagian-bagiannya, tetapi juga merupakan hal yang mempengaruhi karakteristik dan perilaku dari bagian-bagiannya (its parts). Hampir tidak ada orang waras yang menolak argumentasi bahwa tatanan sosial yang ada sekarang, misalkan negara secara keseluruhannya, mempengaruhi cara banyak individu-individu yang menjadi bagiannya hidup. Banyak orang di media sosial sendiri sudah menyadari tentang keberadaan permasalahan struktural. Apa yang disebut sebagai permasalahan struktural adalah manifestasi pengaruh nyata dari tatanan sosial terhadap kehidupan individu; dan untuk menyelesaikan permasalahan ini tidak cukup hanya dengan merubah sifat-sifat individu-individu yang hidup di dalamnya.
Pandangan Alternatif Lewontin: Evolusi Konstruktif
Kritik mendasar terhadap konsep evolusi tersebut membawa Lewontin untuk memberikan pandangan alternatifnya. Lewontin berpandangan bahwa dikotomi keras antara lingkungan dan organisme sendiri adalah hal yang salah kaprah. Eksistensi dari lingkungan hanya dimungkinkan persis karena adanya organisme. Tidak ada lingkungan tanpa organisme, tidak ada organisme tanpa lingkungan.
“First, there is no environment in some independent and abstract sense. Just as there is no organism without an environment, there is no environment without an organism. Organisms do not experience environments. They create them. They construct their own environments out of bits and pieces of the physical and biological world and they do so by their own activities.”
Lebih lanjut, Ia juga memberikan pandangan alternatif yang menggantikan konsep evolusi adaptif, yaitu evolusi konstruktif. Dalam konsep ini, evolusi tidak dilihat hanya sebagai interaksi antara gen dan lingkungan saja, sedangkan organisme hanyalah produk dari totalitas interaksinya; tetapi organisme dapat berperan menjadi subjek yang dapat membentuk dan mempengaruhi lingkungan sehingga dengan cara ini menjadi memiliki pengaruh dalam proses evolusi. Pokok pikiran evolusi konstruktif dari Lewontin ini dalam teori evolusi modern diadopsi dalam nama Niche Construction Theory (NCT) 1.
Aksi Sosial Sebagai Pembebasan Manusia
Jika reduksionisme memberi kesan penyerahan the wholes sepenuhnya terhadap rantai kausalitas its parts yang terjadi secara searah, maka penjelasan apapun mengenai tatanan sosial melalui kerangka berpikir seperti itu hanya akan menghasilkan penjelasan yang menihilkan agensi, seperti yang dilihat pada determinisme biologis tadi. Oleh karenanya, seringkali penjelasan melalui kerangka reduksionis menghasilkan, atau secara implisit mengimplikasikan, tentang batasan/limitasi dari manusia. Misalnya, dalam determinisme biologis dikatakan bahwa sifat-sifat universal dari manusia sudah tertulis secara eksplisit dalam gen-gen kita sehingga tidak dapat dirubah. Hal yang sama juga pada pemaparan human nature yang memberikan cetakan tentang deskripsi manusia yang seakan statis dan tak bisa dirubah.
Namun, reduksionisme ini melupakan satu yang sangat krusial dan mudah untuk ditemui sehari-hari; bahwa justru melalui pengorganisasian sosial itulah manusia dapat melampaui, atau menegasikan, limitasi mereka. Manusia tidak dapat terbang, tetapi sebagian orang saat ini dapat terbang dengan membentuk sistem edukasi pilot dan insinyur, bandara yang dioperasikan oleh ribuan orang, dan keseluruhan industri yang memungkinkan teknologi pesawat dan bandara tersebut dapat tercipta. Jadi, jika reduksionisme mendeskripsikan keniscayaan sistem sosial melalui limitasi individu-individu (human nature), maka menegasikan reduksionisme memiliki konsekuensi pengorganisasian yang memiliki hasil berupa negasi terhadap limitasi individu tersebut. Pengorganisasian sosial itulah yang memungkinkan pembebasan manusia dari limitasinya!
Tentang ini, Lewontin memberi paragraf penutup pada Biology as Ideology:
“History far transcends any narrow limitations that are claimed for either the power of genes or the power of the environment to circumscribe us. Like the House of Lords that destroyed its own power to limit the political development of Britain in the successive Reform Acts to which it assented, so the genes, in making possible the development of human consciousness, have surrendered their power both to determine the individual and its environment. They have been replaced by an entirely new level of causation, that of social interaction with its own laws and its own nature that can be understood and explored only through that unique form of experience, social action.”
Referensi
- Levins, R., & Lewontin, R. C. (2020). The dialectical biologist. Harvard University Press. (Karya asli diterbitkan 1985)
- Lewontin, R. C. (1991. Biology as ideology: The doctrine of DNA. House of Anansi Press.
- Biasetti, P. (2020). Dialectical thinking and science: The case of Richard Lewontin, dialectical biologist. Dalam Natural Born Monads (On the Metaphysics of Organisms and Human Individuals) (hlm. 265–292). De Gruyter. https://doi.org/10.1515/9783110604665-013.
Catatan Kaki
-
Meskipun diadopsi, tetap harus diakui bahwa terdapat perbedaaan antara evolusi konstruktif dari Lewontin dan NCT, dimana yang terakhir tetap menggunakan kerangka reduksionis dan bukan dialektikal seperti yang diungkapkan Lewontin (Biasetti, 2020). ↩︎